Honda Dan Toyota Hentikan Ekspor Mobil Ke Vietnam

Honda Dan Toyota Hentikan Ekspor Mobil Ke Vietnam

Produsen otomotif asal Jepang yakni Toyota dan Honda, sejak awal tahun sudah menunda ekspor ke Vietnam. Hal tersebut adanya pemeriksaan ketat kendaraan yang di import ke Vietnam.

Dari kutipan Asian Nikkei, menunjukkan aturannya terlihat proteksionisme. Dimana akan menghapus tarif import untuk mobil dari negara Asia Tenggara sebesar 30% sejak 1 Januari 2019.

Toyota menjelaskan, sudah menghentikan produksi untuk ekspor ke pasar Vietnam. Untuk produksi mobilnya memang di Vietnam namun importnya dilakukan di Thailand, Indonesia, dan Jepang.

Sayangnya import di tiga negara tersebut memang cukup besar, hampir 1/5 dari pangsa pasar di Vietnam bisa dihitung sekitar 1000 unit/bulan.

“Pasar Vietnam melambat tahun lalu dengan jelas, karena konsumen menahan diri untuk tidak membeli saat menunggu penghentian tarif pada akhir 2019,” jelas Presiden Toyota Motor Thailand, Michinobu Sugata.

Memang penjualan mobil di Vietnam antara Januari sampai November mengalami penurunan 10% atau 245 ribu unit.

“Kami mengantisipasi lompatan besar pada 2020, namun karena hambatan nontarif yang ditetapkan oleh pemerintah Vietnam, kami sama sekali tidak dapat mengekspor ke pasar,” ujarnya.

Pada Oktober 2019 lalu, pada peraturan tersebut memerlukan uji emisi dan keselamatan yang harus dilakukan untuk setiap batch mobil yang akan di import. Berbeda dengan dulu yang hanya menguji setiap model setiap pengiriman pertama.

Kementerian Perdagangan dan Industri Jepang di Vietnam menjelaskan, dalam satu tes emisi akan memakan waktu lama hingga 2 bulan dan menghabiskan biaya hingga US $10 ribu.

ekspor mobil honda

“Ini akan menyebabkan banyak waktu dan uang,” ujarnya kepada Perdana Menteri (PM) Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, Desember tahun lalu.

Sementara untuk setiap model yang dimpor harus mendapatkan sertifikat Vehicle Type Approval (VTA) dari otoritas negara pengekspor. Tujuan VTA untuk menunjukan bahwa kendaraan tersebut memenuhi standar di negara yang kendaraan tersebut bakal dijual.

Sejak keputusan tersebut, pemerintah eksportir besar, seperti Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat, khawatir kepada Vietnam. Mereka tidak mungkin menjual kendaraan ke Vietnam, dan keputusan tersebut dapat melanggar peraturan Organisasi Perdagangan Dunia.

Sejumlah mobil baru yang siap diekspor di Tanjung Priok Car Terminal, Jakarta, Kemenperin mencatat ekspor mobil CBU pada Semester I tahun meningkat 20,5% berbeda pada periode yang sama tahun 2018. lalu

Selain Toyota, merek yang juga terpukul dengan aturan ini adalah Honda yang berniat mengirimkan SUV andalannya, CR-V.

Untuk menghemat biaya, Honda kemudian memindahkan produksi sepenuhnya ke Thailand, tapi sayangnya harus ditunda. Padahal, Honda akan mengimpor 10 ribu CR-V sepanjang 2019, dan meningkat 70% dari yang diproduksi di Vietnam tahun lalu, terlebih karena model baru yang sudah diluncurkan.

“Model CR-V terbaru sangat populer, dan kamu sudah menerima sekitar 200 pesanan,” kata pemilik dealer di Hanoi, Vietnam. “Tapi, mobil-mobil itu tidak akan sampai pada April mendatang,” tambahnya.

Sedangkan untuk Mitsubishi Motor juga memutuskan akan berhenti memproduksi SUV Pajero Sport untuk pasar Vietnam di Thailand.

“Kami terus meningkatkan keprihatinan kami dengan pemerintah Vietnam, sehubungan dengan dampak penting (keputusan) mengenai operasi tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar diberi waktu dua tahun untuk menghapus semua tarif perdagangan regional, terkait barang yang disepakati anggota. Hal tersebut terungkap ketika blok 11 negara memulai ASEAN Economic Community, akhir 2018.